Senin, 02 Desember 2019

Cara Budidaya Ayam Kampung


Budidaya Ayam Kampung🐦


Mengenai cara merawat doc ayam kampung harus Anda lakukan sejak hari pertama penetasan hingga umurnya mencapai seminggu. Fase ini merupakan tahapan penting untuk menentukan kelanjutan doc ayam kampung menjadi tumbuh dewasa. Oleh karena itu, pada fase ini Anda harus melakukan semua tahap pemeliharaan doc ayam kampung dengan telaten.
Ada beberapa cara yang dapat Anda terapkan untuk merawat doc ayam kampung. Cara tersebut biasanya berkaitan dengan aspek kandang, pakan dan vitamin (vaksin). Ketiga faktor inilah yang akan menunjang pertumbuhan doc ayam kampung menjadi dewasa. Jadi, apabila ketiga aspek di atas bisa Anda urus dengan baik maka kualitas doc ayam kampung yang dihasilkan akan mengikuti. Berikut ini adalah 5 cara merawat anak ayam kampung agar hasilnya berkualitas.

Perhatikan Kepadatan Kandang

Dalam merawat doc ayam kampung, kepadatan juga harus selalu Anda perhatikan disamping kebersihan kandang. Kondisi kandang yang terlalu padat akan mempengaruhi pertumbuhan doc ayam kampung karena sirkulasi udara menjadi terganggu. Akibatnya, doc ayam kampung yang ada di dalam kandang sulit untuk memperoleh segar. Selain sirkulasi udara yang terhambat, kepadatan juga dapat membuat doc ayam kampung saling serang hingga berujung kematian.

Perhatikan Kehangatan Kandang

Cara merawat doc ayam kampung yang kedua yaitu mengatur suhu kandang agar hangat. Biasanya, doc ayam kampung yang baru menetas membutuhkan ruangan dengan suhu udara relatif hangat. Oleh karena itu, tempat yang digunakan sebagai kandang haruslah terjaga kerapatannya. Selain itu, doc ayam kampung yang baru menetas sebaiknya dipisahkan dengan indukannya. Hal ini bertujuan untuk menghindari penyebaran penyakit. Meskipun ruangan didesain rapat, tetapi Anda harus membuat lubang untuk mengatur sirkulasi udara segar.

Jaga Kebersihan Kandang

Selain kehangatan dan kepadatan, kebersihan kandang juga harus selalu Anda jaga. Jangan biarkan kandang dipenuhi dengan kotoran-kotoran ayam maupun sisa pakan. Kondisi ini tentu saja akan menyebabkan doc ayam kampung yang Anda pelihara mudah terserang penyakit. Idealnya, Anda harus menjaga kebersihan kandang secara rutin dan membuatnya tetap kering tidak lembab. Terjaga kebersihan kandang tidak hanya bermanfaat untuk doc ayam tetapi juga untuk diri Anda sendiri dan keluarga.

Berikan Pakan Secara Teratur

Pemberian pakan pada doc ayam kampung harus Anda lakukan dengan teratur. Tidak hanya itu, jenis pakan yang Anda berikan hendaknya disesuaikan dengan usia doc ayam kampung. Misalnya: Anda harus memberikan pakan dengan tekstur halus untuk doc ayam kampung yang berusia 1-7 hari. Hal ini dikarenakan doc ayam kampung pada usia tersebut belum bisa mengkonsumsi pakan yang bertekstur kasar. Cara merawat doc ayam kampung yang satu ini akan membuatnya tumbuh normal.

Pemberian Vaksin Secara Berkala

Doc ayam kampung terkadang sangat rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit. Penyakit yang biasanya menyerang doc ayam kampung adalah tetelo dan flu burung. Oleh karena itu, pemberian vaksin wajib Anda lakukan secara berkala agar kondisi tubuh doc ayam kampung tetap sehat. Vaksin dapat Anda berikan pada doc ayam kampung yang sudah berumur 4 hari, 4 minggu dan 4 bulan.
Cara merawat doc ayam kampung yang baik dan benar akan menghasilkan kualitas terbaik dalam daging dan telurnya ketika sudah dewasa. Biasanya daging dan telur ayam yang berkualitas tinggi banyak dicari oleh masyarakat untuk dikonsumsi sehari-hari. Hal ini dikarenakan daging maupun telur ayam yang berkualitas akan membuat tubuh menjadi sehat.

Budidaya Ikan Lele🦈




Budidaya Ikan Lele🦈


Budidaya ikan lele merupakan salah satu kegiatan atau usaha yang banyak ditekuni oleh masyarakat Indonesia. Perawatannya yang relatif mudah dan target pemasaran yang cukup luas menjadi faktor pilihan tersendiri bagi para peternak ikan lele. Media pembudidayaan ikan lele pun cukup beragam. Mulai dari kolam terpal, kolam tembok, kolam bioflok, dan salah satunya dengan media kolam tanah. Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas mengenai bagaimana cara budidaya ikan lele di kolam tanah. Yuk simak !

Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah

Kolam Tanah

Kolam tanah adalah salah satu media pembudidayaan ikan termasuk ikan lele yang dibuat dengan bahan utama tanah yang digali. Cara budidaya ikan lele di kolam tanah juga relatif mudah. Pembuatan kolam tanah sebaiknya melihat dulu jenis tanahnya, apakah mudah menyerap air atau tidak. Untuk kolam tanah sebaiknya dibuat pada jenis tanah yang tidak mudah menyerap air. Kolam tanah tidak bisa dibuat pada tanah yang berpasir, tanah berporous, dan tanah galian. Kelebihan dari kolam tanah pun bermacam-macam, diantaranya :
Contoh bentuk kolam pada cara bubidaya ikan lele di kolam tanah
Kolam Pembudidayaan Lele Sistem Kolam Tanah

Kelebihan dari Kolam Tanah

  1. Ketersediaan pakan alami pada kolam tanah akan lebih banyak. Karena tanah merupakan tempat tumbuhnya mikroorganisme yang bisa untuk pakan tambahan lele.
  2. Biaya dalam pembuatan kolam tanah relatif lebih murah dibandingkan dengan kolam jenis lain.
  3. Pada kolam tanah, proses perombakan sisa pakan dan metabolisme bisa terjadi secara alami.
  4. Kolam tanah bisa dan gampang untuk dialihfungsikan, misalnya menjadi sawah.
Namun dibalik banyak kelebihan tersebut, terdapat beberapa kekurangan dari kolam tanah. Salah satunya adalah kolam tanah rentan bocor. Kebocoran rentan terjadi pada tanggul kolam sehingga peteranak harus telaten dalam merawatnya. Debit air yang masuk ke dalam kolam pun sulit di kontrol serta hewan predator di dalam kolam sulit untuk terdeteksi.
Nah, setelah mengetahui kelebihan dan kekurangan dari kolam tanah, yuk intip persiapan dalam berbudidaya ikan lele di kolam tanah !
Sebelum memulai budidaya ikan lele di kolam tanah, perlu ada hal yang diperhatikan mulai dari kolam, pakan, hingga masa panen. Namun hal utama yang harus dipersiapkan tentunya adalah kolam. Berikut persiapan dan cara dalam membuat kolam tanah.

A. Persiapan dan Cara dalam Membuat Kolam Tanah

1. Proses Penggalian Kolam

Sebelum menuju ke proses penggalian, pastikan lokasi untuk pembuatan kolam tanah telah bersih dari sampah. Selanjutnya mulailah menggali tanah dengan ukuran 5 x 3 meter dengan kedalaman 80 – 150 cm. Penggalian tanah bisa dilakukan menggunakan cangkul atau alat modern. Tanah hasil galian jangan dibuang, sebaiknya jadikan tanah hasil galian sebagai tanggul. Tanggul di buat di pinggiran kolam dengan lebar dan kuat agar nantinya kolam tidak mudah bocor. Jangan lupa untuk memberikan salah satu pipa pengeluaran air di salah satu sudut tanggul kolam agar air tidak meluap. Jangan lupa untuk membuat kemalir atau parit di tengah kolam dengan ukuran lebar 40 cm dan kedalaman 20 cm. Pembuatan kemalir ini bertujuan untuk memudahkan saat lele akan dipanen.

2. Proses Pengeringan Kolam

Setelah proses penggalian kolam selesai, maka kolam harus dikeringkan terlebih dahulu. Keringkan kolam di bawah sinar matahari selama 3 – 7 hari. Pastikan kolam harus benar-benar kering, tandanya adalah dengan melihat tanah di dasar kolam yang retak-retak. Proses pengeringan ini berfungsi untuk membunuh segala bakteri yang ada di tanah kolam yang bisa menimbulkan bibit penyakit bagi ikan lele. Selain itu gas-gas beracun yang terperangkap di dalam tanah akan menguap hilang jika terpapar sinar matahari.

3. Proses Penggemburan Tanah

Setelah tanah dasar kolam dipastikan benar-benar kering, proses selanjutnya adalah penggemburan tanah. Tanah digemburkan atau di bajak (di balik) menggunakan cangkul dengan kedalaman sekitar 10 cm. Tanah yang gembur mudah ditumbuhi mikroorganisme baik.

4. Proses Pengapuran Tanah

Apabila tanah dasar kolam sudah digemburkan, maka harus dilakukan proses penebaran kapur. Proses pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan tingkat keasaman atau pH pada tanah. Taburkan kapur tohor dengan dosis 50 – 200 gram/m2. Semakin asam tanah, maka jumlah kapur tohor yang ditaburkan pun semakin tinggi. Setelah kapur ditaburkan, aduk-aduk dengan tanah yang telah gemburkan sampai tercampur rata dan biarkan hingga 7 hari.
Proses Pengapuran Kolam Tanah dalam cara budidaya ikan lele di kolam tanah
Ilustrasi Proses Pengapuran Kolam Tanah

5. Proses Pemupukan

Setelah tanah diberi kapur dan dibiarkan selama kurang lebih satu minggu, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah pemberian pupuk. Pemupukan bisa menggunakan pupuk organik dari kotoran sapi, kerbau, kambing, atau bisa menggunakan pupuk kompos. Taburkan pupuk secara merata ke tanah dasar kolam, pastikan tercampur rata dengan tanah yang telah gembur. Bisa juga ditambahkan dengan pupuk urea dan TSP. Kemudian padatkan tanah campuran tadi dan biarkan hingga satu minggu. Proses pemberian pupuk berfungsi untuk menumbuhkan organisme seperti fitoplankton dan cacing, dimana nantinya biota tersebut bisa menjadi pakan alami lele.

6. Pengisian Air

Setelah kolam dipupuk, kemudian isilah kolam dengan air setinggi 50-70 cm dan biarkan selama satu minggu. Dalam waktu satu minggu air kolam akan tersinari oleh matahari dan tembus ke dasar kolam. Hal itu akan memicu tumbuh dan berkembangnya biota air seperti cacing dan fitoplankton yang berfungsi sebagai pakan alami lele. Setelah satu minggu, air kolam akan berubah warna menjadi kehijauan. Lalu tambahkan air ke dalam kolam hingga ketinggian 100 – 120 cm.
Setelah melakukan seluruh prosedur di atas, maka kolam tanah telah siap untuk ditebari benih ikan lele. Berikut penjelasan mengenai bibit ikan lele, pakan ikan lele, pemeliharaan, hingga proses pemanenan.
Proses Pengisian Air Kolam pada cara budidaya ikan lele di kolam tanah
Proses Pengisian Air Kolam

B. Pemilihan Bibit Lele

Perlu anda perhatikan sebelum membeli bibit ikan lele mengenai ciri-ciri bibit lele yang baik. Bibit lele yang baik sehat ciri-cirinya ia terus bergerak aktif. Pastikan tidak ada cacat atau luka di seluruh tubuh ikan lele, mulai dari kepala hingga ekor. Kulit bibit lele yang baik warnanya mengkilap tanpa ada bercak dan ukurannya seragam. Ukuran bibit lele yang siap dimasukkan kolam biasanya sekitar 5 – 7 cm. Anda bisa memilih jenis bibit lele sesuai keinginan anda. Ada bibit lele dumbo ataupun lele sangkuriang untuk diternakkan di kolam tanah.
Bibit Ikan Lele
Bibit Ikan Lele

C. Penebaran Bibit Lele

Setelah anda memastikan bahwa anda telah membeli bibit yang baik dan sehat, lalu bibit tersebut dimasukkan ke dalam kolam. Tetapi perlu diingat, jangan sampai anda memasukkan bibit ikan lele yang baru saja anda beli secara langsung ke dalam kolam.  Hal ini akan mengakibatkan lele menjadi stress, sebab lele belum diberi waktu untuk beradaptasi dengan air kolam. Bibit lele harus menyesuaikan suhu terlebih dahulu dari wadah atau jerigen bawaan dengan air kolam. Sebaiknya yang harus dilakukan adalah dengan meletakkan bibit lele bersama wadah atau jerigen bawaannya ke dalam kolam lalu diamkan selama 15-30 menit. Setelah itu miringkan sedikit wadah tadi dan biarkan bibit lele keluar dengan sendirinya.
Proses Menebar Benih Lele dalam cara budidaya ikan lele di kolam tanah
Proses Menebar Benih Lele

D. Pemberian Pakan

Pemberian pakan pada lele yang dipelihara dalam kolam tanah akan sedikit lebih hemat karena telah tersedia pakan alami dari dalam kolam. Tetapi lele juga perlu tambahan nutrisi. Anda bisa memberikannya pakan buatan berupa pelet. Pelet mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh lele.
Pada saat lele masih dalam bentuk bibit, pakan yang diberikan berupa pelet yang masih dalam bentuk scrumble atau butiran. Bisa juga diberikan pakan tambahan cacing sutera atau kutu air. Jika lele sudah besar, pelet yang diberikan adalah pelet yang sesuai dengan panjang tubuhnya. Terdapat banyak di pasaran pakan lele yang disesuaikan dengan panjang tubuhnya. Untuk menghemat pakan, anda juga bisa memberikannya pakan alternatif berupa ikan rucah atau keong sawah yang telah dipotong-potong. Pakan alternatif dari campuran daun singkong dan pelet juga baik untuk lele.
Pemberian pakan dilakukakan 3 sampai 4 kali dalam satu hari. Khusus untuk lele yang masih dalam bentuk bibit, frekuesi pemberian pakan harus ditingkatkan. Karena bibit lele mudah merasa lapar. Setelah lele bertambah besar, frekuensi pemberian pakan akan sedikit berkurang. Setiap 10 hari sekali lele diambil sampelnya untuk mengetahui berapa jumlah pakan yang harus diberikan setiap harinya.
Saat memberi pakan lele, anda harus memperhatikan apakan lele sudah kenyang atau belum. Jangan sampai lele kekenyangan. Apabila lele sudah kenyang maka ia tidak akan memakan pakan ataupun pelet yang telah disebar. Selain mubadzir, timbunan pakan di dasar kolam juga tidak baik bagi lele karena akan menimbulkan zat amonia yang bisa membuat lele menjadi mati. Namun jangan sampai anda telat dalam memberi pakan, karena lele termasuk hewan kanibal. Ia akan memangsa kawannya terutama yang berukuran lebih kecil apabila dalam kondisi kelaparan.
Pelet Pakan Ikan Lele

E. Pemeliharaan

Dalam membudidayakan ikan lele, perlu dilakukan pemeliharaan yang telaten dan rutin. Hal itu meliputi kebersihan kolam, hama, penyakit, dan lain-lain. Untuk kebersihan kolam, anda harus mengganti air kolam tergantung dengan frekuensi pemberian pakan. Apabila frekuensi pemberian pakan tinggi, maka kolam harus lebih sering dibersihkan. Jika telah tercium bau seperti bau busuk maka segera ganti air kolam. Bau busuk tersebut bersumber dari sisa-sisa pakan yang mengendap di dasar kolam. Angkat sisa-sisa pakan yang ada didasar kolam. Kemudian gantilah air kolam dengan menguras sepertiga air kolam bagian bawah kemudian isi kembali dengan air baru.
Untuk mencegah agar hama pemangsa lele seperti musang air, linsang, atau ular, sebaiknya pada saluran pemasukan maupun pembuangan air diberi saringan atau semacam jaring-jaring strimin pelindung. Bisa juga dengan memasang pagar di pinggiran kolam. Jagalah suhu air kolam agar stabil pada kisaran 28o celcius agar lele tetap dalam kondisi yang baik.

F. Proses Panen

Dalam proses beternak, waktu panen adalah saat-saat yang sangat ditunggu. Setelah masa pemeliharaan selama 2,5 sampai 3 bulan, lele telah siap untuk dipanen. Biasanya lele siap panen dalam satu kilogram lele berisi sekitar 5-9 ekor. Dua minggu sebelum lele dipanen, frekuensi pemberian pakan sedikit dikurangi. Dalam proses pemanenan, agar mudah kuras air kolam terlebih dahulu menggunakan ember ataupun pompa hingga tersisa air setinggi 10-15 cm. Gunakan sarung tangan atau bantuan jaring supaya tangan anda tidak terkena patil. Setelah itu sortir lele seusuai ukuran agar lebih seragam.
Selain menggunakan media kolam tanah, anda juga bisa mencoba cara budidaya ikan lele di kolam tembok Namun untuk kolam tembok sendiri membutuhkan budget yang lebih banyak daripada kolam tanah. Tetapi kolam tembok tidak rentan bocor seperti pada kolam tanah. Cara budidaya ikan lele di kolam tembok pun secara keseluruhan hampir sama dengan budidaya ikan lele di kolam tanah. Hanya saja sedikit berbeda dalam hal penyiapan kolam.
Panen Ikan Lele
Panen Ikan Lele

Tips Agar Kolam Tanah Tidak Mudah Bocor

Salah satu kelemahan dari kolam tanah adalah rentan terjadi kebocoran. Tetapi ada beberapa tips cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kebocoran tersebut, yaitu :
Kebocoran pada kolam tanah biasanya terjadi akibat tanggul kolam (pematang) tidak atau kurang kuat. Maka dalam pembuatan tanggul kolam sebaiknya memperhatikan antara kedalaman kolam dengan tinggi dan lebar tanggul kolam. Biasanya tanggul kolam berbentuk trapesium sama kaki. Supaya tanggul kolam kuat menahan debit air, tanggul dibuat dengan lebar atas 1 meter dan lebar bawah 2 sampai 3 meter. Tanggul kolam ditanamkan 20 cm meter dibawah dasar kolam agar lebih kuat.
Contoh tanggul pada kolam tanah
Contoh tanggul pada kolam tanah
Selain dalam hal tanggul, anda bisa membuat dasar kolam dengan posisi miring ke arah pengeluaran air sehingga memudahkan saat menguras air kolam. Kemiringan dasar kolam dari arah pemasukan ke arah pengeluaran 1-2 %. Jadi setiap jarak 10 meter diberikan selisih ketinggian sekitar 30 cm.
Saluran ditengah kolam (kemalir) juga dibuat miring ke arah pengeluaran air agar memudahkan saat pengurasan. Untuk saluran pemasukan air dan pengeluaran air sebaiknya di buat terpisah dan terletak di tengah sisi kolam yang pendek. Hal tersebut ditujukan agar sirkulasi air menjadi lancar.

Budidaya Jamur Tiram


Yuk kita belajar budaya jamur tiram

Jamur tiram adalah jamur pangan berasal dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes.
Jamur ini mempunyai ciri-ciri umum, yakni tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung.
Ciri-Ciri Jamur Tiram
  • Tubuh buah jamur ini memiliki tangkai yang tumbuh menyamping.
  • Jamur ini memiliki diameter 5-20 cm yang bertepi tudung mulus sedikit berlekuk.
  • Terdapat spora yang berbentuk batang dengan ukuran sekitar 8-11×3-4 cm serta miselia berwarna putih yang dapat tumbuh dengan cepat.
  • Di alam bebas, bisa dijumpai hampir pada sepanjang tahun di hutan dan pegunungan daerah yang sejuk.
  • Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah bekas ditebang. Karena jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu.
  • Oleh karena itu, saat ingin membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat alaminya.
  • Media yang umum dipakai untuk menanam jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu yang merupakan limbah dari penggergajian kayu.

Cara Budidaya Jamur Tiram


cara budidaya jamur tiram
Jamur tiram dapat tumbuh dan berkembang dalam media yang terbuat dari serbuk kayu yang dikemas dengan kantong plastik.
Pertumbuhan jamur tiram sangat rentan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, haruslah perlu mengetahui mengenai kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya sebelum melakukan budidaya jamur tiram.
Kondisi Lingkungan Jamur Tiram
Pada kehidupan alaminya jamur ini tumbuh di hutan dan biasanya tumbuh berkembang dibawah pohon berdaun lebar atau dibawah tanaman yang berkayu.
Hal ini penting untuk jadi patokan dalam melakukan budidaya jamur tiram. Membuat tempat tumbuh seolah habitatnya, inilah yang menjadi alasan mengapa nantinya kita menggunakan serbuk gergaji sebagai tempat untuk membudidayakan jamur.
Berikut panduan budidaya jamur tiram:

0. Persiapan Budidaya Jamur Tiram

Sebelum lanjut pada proses pembuatan penanaman, beberapa hal yang perlu dipersiapkan kedepannya, diantaranya:
  • Rumah kumbung
  • Baglog
  • Rak baglog
  • Bibit jamur tiram
  • Media tanam (serbuk gergaji)
  • Substrat (dedak/bekatul)
Keenam poin di atas merupakan alat dan bahan yang kita butuhkan untuk budidaya nantinya. Penggunaan dan fungsi dari masing-masing poin akan diulas pada poin-poin berikut ini.

1. Pembuatan Rumah Kumbung

Pertama harus membuat rumah kumbung sebagai tempat baglog ditempatkan untuk pertumbuhan jamur tiram.
Apa itu Rumah Kumbung?
Kumbung atau rumah jamur adalah tempat untuk merawat baglog dan sebagai tempat menumbuhkan jamur. Bentuknya berupa sebuah bangunan dari bambu atau kayu, dindingnya dari papan dan atapnya dari genteng.
Pada rumah kumbung inilah baglog jamur diletakkan pada rak-rak. Nantinya, jamur akan berkembang hingga panen pada rumah kumbung ini.
Mulai dari suhu, sirkulasi udara, dan perawatan jamur dari gangguan hama dilakukan disini. Inilah mengapa pembangunan rumah kumbung perlu diperhatikan dengan saksama. Berikut panduan membuat rumah kumbung:
  • Di dalam kumbung dilengkapi dengan rak yang berupa kisi-kisi dibuat bertingkat. Rak tersebut berfungsi untuk menyusun baglog.
  • Rangka rak bisa dibuat dari bambu atau kayu. Rak diletakkan berjajar. Antara rak satu dengan yang lain dipisahkan dengan lorong untuk perawatannya.
  • Ukuran ketinggian ruang antara rak sebaiknya sekitar tidak kurang dari 40 cm, rak ini bisa dibuat 2-3 tingkat.
  • Lebar rak 40 cm dan panjang setiap ruas rak sekitar 1 meter. Setiap ruas rak sebesar ini bisa memuat  70-90 baglog.
  • Setelah kumbung siap.
  • Bersihkan rumah kumbung dengan melakukan penyemprotan fungisida pada bagian dalam dan di diamkan selama 2 hari sebelum diisi baglog.
Dalam membangun rumah kumbung, hal yang sebaiknya diperhatikan adalah tidak dianjurkan menggunakan atap asbes atau seng. Hal ini dikarenakan jamur tiram lebih baik dalam kondisi tidak terlalu panas, rentang 16-24 derajat celcius.

2. Menyiapkan Baglog


budidaya-jamur-tiram-2019
Bukalapak.com / Urban Story / Rp 35.200
Setelah rumah kumbung siap. Tahap berikutnya pembuatan media tanam jamur tiram atau baglog.
Apa itu Baglog?
Baglog merupakan tempat yang digunakan untuk meletakkan bibit jamur tiram. Dalam budidaya jamur yang modern, media tumbuh yang digunakan adalah berupa kayu tiruan (log) yang dibuat dalam bentuk silinder.
Pada saat melakukan budidaya jarum tiram dalam skala yang besar, para petani biasanya membuat baglog sendiri.
Namun, bagi yang pemula atau petani dengan modal yang terbatas sebaiknya baglog dibeli dari orang lain dan selanjutnya  bisa fokus menjalanakan usaha budidaya.
Saat ini, baglog jamur tiram yang berbobot sekitar 1 kg dijual dengan harga Rp. 2.000-3.000.
Alat dan bahan pembuatan baglog:
  • Serbuk gergaji kayu: 100 kg
  • Dedak: 15 kg
  • Kapur (CaCO3): 2kg
Serbuk Gergaji
Fungsi dari sebuk gergaji adalah penyedia nutrisi bagi jamur. Adapun serbuk gergaji yang direkomendasikan sebaiknya serbuk dari kayu keras, seperti kayu mahoni, kayu kampung, atau sengon.
Kayu keras dipilih karena banyak mengandung senyawa organik, selulosa, yang dibutuhkan oleh jamur. Adanya ini pula mempengaruhi terhadap kuantitas panen jamur nantinya.
Setelah serbuk dan dedak didapatkan. Berikutnya lakukan pengomposan terhadap serbuk kayu supaya bisa terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana.
Caranya cukup sederhana, cukup tutup serbuk kayu tersebut dengan plastik terpal selama 1-2 hari pada suhu sekitar 50 derajat celcius.
Dedak
Pertumbuhan jamur membutuhkan kalori. Inilah yang akan disupply oleh dedak pada jamur. Dedak tersebut berfungsi sebagai substrat.
Kumpulkanlah dedak yang masih kondisi baru guna meminimalisir adanya kemungkinan terjadi fermentasi lain pada dedak yang berpotensi menghambat pertumbuhan jamur tiram nantinya.
Kapur
Bila dedak berfungsi untuk memberikan kalori pada jamur maka kapur berfungi sebagai sumber mineral dan pengatur pH jamur tiram.
[ su_list icon=”icon: check-square-o” icon_color=”#3ac569″]
  • Setelah -bahan-bahan terkumpul. Berikutnya berupa sterilisasi serbuk kayu dan dedak menggunakan oven pada suhu 100 derajat celcius selama 6-8 jam.
  • Tujuan dari sterilisasi untuk mengurangi mikroorganisme serta mengurangi kadar air pada serbuk kayu /serbuk gergaji.
  • Kemudian, campurkan bahan (serbuk gergaji, dedak, dan kapur) sambil diaduk rata.
  • Sambil diaduk tambahkan air bersih hingga mencapai kadar air 60-65%. Kadar ini ditandai bila campuran digumpalkan tidak pecah.
  • Setelah dicampurkan, bahan-bahan tersebut bisa dikomposkan selama 1, 3, 7 hari, atau langsung dimasukkan pada baglog.
[/su_list]

3. Pemeraman

Nama lain dari proses pemaraman adalah inkubasi. Tahapan ini bertujuan untuk menumbuhkan miselium.
Ruang inkubasi ini biasanya mempunyai suhu sekitar 24-30 derajat celcius dengan kelempaban 90 – 100%, cahaya 500 – 1.000 lux dan sirkulasi udaranya sekitar 1 – 2 jam.
Mungkin sebelum memulai ingin mengetahui cara budidaya jamur tiram ini.
Sedikit dibuat bingung dengan istilah-istilah yang sebelumnya belum pernah di dengar, maka dari itu harus membaca banyak sekali artikel sebagai referensi dan acuan dalam budidaya jamur ini.
  • Proses inkubasi ini biasanya berlangsung selama 15 – 30 hari sesuai kebutuhan dan kondisi.
  • Apabila miselium sudah memenuhi baglog, itu tandanya baglog tersebut sudah siap untuk dipindahkan ke rumah kumbung untuk yang buat dibudidayakan.
  • Ini adalah babak penentuan bagi jamur tiram, karena jika miselium tersebut tidak tumbuh, bisa dikatakan bahwa proses inakulasi telah gagal.
  • Jika miselium ini sudah muncul, tutup pada jamur dibuang dan biarkan terbuka. Jangan lupa untuk semprot jamurnya setiap hari untuk menjaga kelembapan suhu.

4. Pengisian & Sterilisasi Baglog

  • Selanjutnya media tanam dimasukkan ke dalam kantong plastik jenis polipropilen.
  • Kemudian, media tanam tadi dipadatkan hingga sampai terbentuk seperti botol.
  • Lalu, bagian atas plastik atau biasa disebut juga dengan leher kantong plastik dipasangi dengan ring, disumbat menggunakan kapas, kemudian dipasang penutup baglog sehingga air tidak masuk ke dalam.
Setelah baglog siap, selanjutnya bisa memulai proses sterilisasi dengan cara mengukusnya. Alatnya pun tidak ribet, dapat menggunakan drum.
  • Pada intinya, proses ini memanfaatkan panas dari uap air yang mempunyai suhu sekitar 70 derajat celcius dalam waktu 5-8 jam. Sedangkan bila menggunakan autoclave cukup 4 jam pada suhu 121 derajat celcius dengan tekanan 1 atm.
  • Yang perlu diperhatikan adalah kestabilan api tungku, jangan sampai terlalu panas, apalagi mati di tengah jalan saat tidur.
  • Selanjutnya wadah dari pengukus dibuka lalu didiamkan selama sekitar 5 jam agar suhu dari baglog dan media tanam menjadi normal kembali.
  • Siapkan alat drum perebus beserta perlengkapannya.
  • Sarangan diletakkan kira-kiran 1/3 bagian drum dari bawah. Isilah drum dengan air bersih kira-kira sekitar ¼ bagian drum.
  • Sumber panas dinyalakan, sambil media tanam dimasukkan ke dalam platik besar tahan panas yang menjulur pada atas drum.
Pendinginan
  • Setelah proses sterilisasi selesai, diamkan baglog selama 8-12 jam sebelum dinokulasi (pemberian bibit) pada suhu 30-35%.
  • Tujuan dari pendinginan ini supaya bibit-bibit jamur tidak mati saat dimasukkan pada baglog.

5. Inokulasi (Pemberian Bibit)

Poin pertama yang harus diperhatikan adalah sterilisasi area tempat pemberian bibit. Adapun poin-poin dalam pemberian bibit jamur tiram, sebagai berikut:
  • Cuci tangan dengan alkohol.
  • Alat untuk mengambil bibit, biasanya spatula harus steril. Caranya dengan beri alkohol pada spatula lalu dibakar.
  • Berikutnya, buka sumbatan baglog, lubangi dengan kayu steril, lalu memasukkan bibit sekitar 1 sendok teh, dan ditekan.
  • Baglog ditutup kembali.
  • Simpan baglog pada rentang suhu 22-28 derajat celcius.

6. Merawat Baglog


baglog-jamur-tiram
Bukalapak.com / Ace Perkakas / Rp 6.800
  • Kertas pada penutup baglog harus dibuka sebelum disusun ke dalam rak lalu diamkan selama 5 hari.
  • Setelah itu, potong ujung baglognya. Tujuannya supaya memberikan ruang pertumbuhan pada jamur tiram. Biarkan selama 3 hari dan jangan disiram dulu.
  • Namun, hanya perlu menyiram bagian lantai saja untuk menjaga kelembapan.
  • Penyiraman pada jamur sebaiknya dengan sprayer yang membentuk kabut, jadi bukan tetesan air.
  • Jagalah suhu di dalam kumbung sekitar 16-24 derajat.
  • Sebelum baglognya disusun, terlebih dahulu buka cincin dan kertas penutup baglog. Kemudian diamkan selama kurang lebih lima hari.
  • Setelah itu, potong bagian ujung baglog agar memiliki ruang pertumbuhan lebih lebar.
  • Diamkan selama 3 hari jangan dulu disiram. Penyiraman cukup pada lantai saja.
  • Untuk penyiraman gunakan spray, penyiraman sebaiknya membentuk kabut, bukan dengan tetesan air.
  • Semakin sempurna pengabutan maka akan semakin baik untuk pertumbuhan jamur.
  • Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 kali sehari, tergantung pada suhu dan kelembaban kumbung.

7. Panen


jamur tiram
Panen perdana jamur tiram dilakukan sekitar 1-2 minggu setelah pembukaan tutup baglog (bila tutup baglog tersebut sudah tertutup sempurna oleh miselium).
  • Jamur tiram yang bisa dipanen adalah jamur yang sudah membesar dan mekar.
  • Saat ujungnya terlihat meruncing, serta tudungnya belum pecah dan warnanya masih putih bersih.
  • Bila lewat masa panen, warna jamur akan berbah menjadi agak kuning kecoklatan dan tudungnya sudah pecah sehingga akan cepat layu.
Baglog jamur dapat dipanen sebanyak 5-10 kali, jika perawatannya juga baik. Baglog yang memiliki berawat sekitar 1 kg dapat menghasilkan jamur kurang lebih 0,7-0,9 kg.
Jarak masa panen pertama ke panen berikutnya berkisar selama 2-3 minggu.

8. Kehadiran Mikroorganisme & Cara Mengatasinya

Media tempat tumbuh merupakan sumber energi utama bagi jamur tiram.
Kehadiran mikroorganisme lain dapat menyebabkan persaingan ketika dalam mendapatkan nutrisi sehingga jamur yang diharapkan tidak dapat tumbuh dengan baik.
Bahkan, sebagian dari kompetitor tersebut dapat mengeluarkan senyawa yang bersifat toksin terhadap organisme yang ada disekitarnya.
Sterilisasi media.
Sterilisasi media merupakan cara yang paling  efektif untuk membebaskan media tanam dari kehadiran jasad asing di dalam media tanam yang tidak diharapkan.
Cara mengatasinya ketika jamur tiram sudah terkena penyakit/bakteri.
  • Panen segera semua jamur hingga tidak tersisa.
  • Baglog dibersihkan dari sisa akar yang tersisa.
  • Semprotkan insektisida organik.
  • Kemudian bila belum berhasil semprotkan insektisida kimia berbahan aktif dichloros, misalnya: lannate atau lebacyd.
  • Semprot kumbung sesuai dengan dosis anjuran atau lebih rendah untuk menyeprot hama. Selama penyemprotan, kumbung tidak boleh disemprot air.
  • Bila jamur baru tumbuh, segera buang karena berpotensi mengandung racun atau bakteri. Setelah tumbuh berikutnya biarkan tumbuh.
  • Selain itu kondisi lingkungan harus diperbaiki terutama sirkulasi udara, hindari udara yang terlalu lembab.

9. Kondisi Lingkungan Budidaya Jamur

  • Kondisi di atas lebih mudah dicapai pada daerah dataran tinggi sekitar 700-800 mdpl.
  • Kemungkinan budidaya jamur tiram pada dataran rendah tidak mustahil, asalkan iklim ruang penyimpanan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan jamur.
  • Miselium pada jamur tiram tumbuh optimal pada keadaan yang gelap.
  • Sebaliknya, tubuh buah jamur tidak dapat tumbuh pada tempat yang gelap. Oleh karena itu, cahaya diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tubuh buah jamur.
  • Tangkai jamur akan tumbuh kecil dan tudung tumbuh abnormal ketika saat pertumbuhan primordial tidak memperoleh penyiraman yang teratur.
  • Cahaya matahari yang menembus secara langsung dapat merusak dan menyebabkan kelayuan pada jamur.
  • Pertumbuhan jamur hanya perlu memerlukan cahaya yang bersifat menyebar. Oleh karena itu, diperlukan peneduh pohon untuk di dekat bangunan tempat pemeliharaan jamur.
  • Jamur tiram merupakan tanaman saprofit fakultatif aerobic yang membutuhkan oksigen berfungsi sebagai senyawa untuk pertumbuhannya.
  • Sirkulasi udara yang lancar akan menjamin pasokan oksigen. Terbatasnya pasokan oksigen udara disekitar tempat tumbuh jamur dapat mengganggu pertumbuhan pada tubuh buah.

10. Nutrisi

Selain serbuk gergaji kayu, media tempat tumbuh jamur tiram juga terdiri dari bekatul (dedak) halus, tepung jagung, kompos, kapur dan air.
  • Media berupa tepung jagung  dan dedak/bekatul berfungsi sebagai substrat serta penghasil kalori berguna untuk pertumbuhan jamur.
  • Pastikan bekatul atau dedak dan tepung jagung masih baru agar media bisa dalam keadaan steril.
  • Protoplas sel memerlukan fosfor, nitrogen, dan nutrisi lain.
  • Karbon selain diperlukan untuk pembentukan protoplasma, juga diperlukan sebagai sumber energi.
  • Nitrogen dibutuhkan untuk pembentukan asam nukleat.
  • Protein dan kitin diperlukan dalam pembentukan  dinding sel jamur.
  • Setelah media tanam telah siap diisi media, langkah selanjutnya sebelum melakukan penanaman bibit jamur, perlu dilakukan sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog.
Mengingat budidaya jamur tiram ini sangat rentan akan serangan hama penyakit sehingga sterilisasi mutlak diperhatikan oleh pelaku budidaya jamur.